Webinar Inspirasi Ilmuwan Membangun Masa Depan Indonesia dengan Riset Nano Herbal

Webinar ke tiga seri Inspirasi yang diselenggarakan oleh Masyarakat Nano dan Nano Center Indonesia mengambil tema Membangun Masa Depan Indonesia dengan Riset Nano Herbal. Webinar yang diadakan pada 18 Juli 2020 menghadirkan dua narasumber yaitu Dr. Yenny Meliana, M.Si. (Kepala Pusat Penelitian Kimia LIPI) dan Dr. Etik Mardliyati, M.Eng ( Pusat Teknologi Farmasi dan Medika BPPT).

Nano Herbal untuk Kesehatan dan Kecantikan

Dr. Yenny Meliana, M.Si  pada sesi pertama memaparkan mengenai nano herbal untuk kesehatan dan kecantikan. Tren penelitian bahan alam saat ini dipengaruhi oleh konsep green chemistry, back to nature dan green nanotechnology. Potensi nanoteknologi di Indonesia sangatlah besar mulai dari sektor agricultural, obat dan farmasi, energi dan lingkungan, serta material maju.

Salah satu menjadi fokus saat ini adalah nano herbal dan aktivitas farmakologinya mengingat Indonesia memiliki kekayaan sumber daya hayati yang bisa dikembangkan menjadi berbagai jenis obat. Sistem nanoemulsi digunakan untuk menghasilkan ekstrak yang jernih dengan ukuran 1-100 nm, stail secara kinetika, viskositas rendah, dan terbentuk ketika diaplikasikan energy gesek yang lebih tinggi.

Saat ini Pusat Penelitian Kimia LIPI melalui Grup Cara Pembuatan Obat Heral Terstandar yang Baik (CPOTB) melalui 3 grup riset kimia ahan alam, kimia medisinal,  dan bioprospeksi telah mengembangkan produk anti selulit yang mengandung ekstrak jahe pegagan, nanocream anti aging, nanodispersi artemisinin, nanosilver untuk handsanitizer, nanoemulsi pestisida nabati.

Pengembangan Produk Jamu, Kosmetika dan Suplemen Kesehatan Berbasis Nanoteknologi

Hal senada juga disampaikan oleh Dr. Etik Mardliyati, M.Eng. bahwa Indonesia memiliki keragaman flora dan fauna serta potensi bahan material dan sumber daya energi yang melimpah. Tanaman herbal memiliki peranan penting dalam produk kesehatan kedepannya.

Melihat kebutuhan pasar global obat herbal dunia  dan Indonesia semakin meningkat, pemerintah melalui Satgas Percepatan Pengemanan dan Pemanfaatan Jamu dan Fitofarmaka mendorong pengembangan obat herbal yang berkualitas.

 Pemanfaatan nanoteknologi pada produk herbal harus menerapkan 3 prinsip dasar yaitu layak dari sisi ilmiah, layak secara ekonomi dan diterima masyarakat termasuk kalangan medis.

Saat ini PTFM BPPT terus melakukan berbagai penelitian dibidang herbal seperti pengembangan ekstrak pegagan nanoenkapsulat untuk aplikasi kosmetik, pengembangan nanoherbal sambiloto, pengembangan teknologi produksi nanokitosan, dsb.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *