Peneliti Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Athanasia Amanda Septevani, tengah menguji limbah yang bisa diubah menjadi display atau layar pada perangkat elektronik. Limbah itu bisa berasal dari tandan kelapa sawit, tongkol jagung, rumput liar atau bekas cairan tahu.

“Kita memanfaatkan nanoteknologi. Proses untuk dijadikan layar elektronik, langkah pertamanya adalah dengan melakukan pemurnian limbah. Kemudian di-chopping lebih kecil-kecil, baru dilakukan proses kimia. Setelah diisolasi, ambil kandungan selulosa untuk diubah menjadi nanoselulosa,” katanya di LIPI, Jakarta Selatan, Jumat, 8 Maret 2019.

Setelah menjadi nanoselulosa, barulah limbah itu diubah menjadi nanopaper lapisan tipis atau jenis produk lainnya.

Sejak 2017, Manda mengaku sudah mendapat pendanaan untuk melancarkan penelitian. Sekarang mereka sudah mendapat lapisan tipis dari limbah tandan kelapa sawit.
“Lapisan dari satu sumber sudah kita dapatkan. Sudah dapat hasil transparan yang bisa digunakan sebagai matriks layar. Untuk optimasi masih kita cari. Kalau sudah dapat hasil yang maksimal, baru kita arahkan ke produk,” ujarnya.

Pemanfaatan limbah menjadi energi terbarukan memiliki beberapa dampak positif. Pertama dari segi ekonomis. Layar konvensional umumnya menggunakan jenis layar LED yang mematok harga cukup fantastis. Namun jika layar didapatkan dari limbah, tentu harganya akan relatif lebih murah dibanding layar konvensional.

Limbah biomassa jumlahnya begitu banyak. Jika kita bisa mengelola kemudian menggunakannya, tidak hanya akan mengatasi masalah pencemaran lingkungan. Tapi juga dapat mengubahnya menjadi produk bernilai tinggi.

“Nanopaper berpotensi menggantikan produk elektronik. Ponsel yang menggunakan layar dari limbah tidak akan mudah retak. Limbah biomassa juga bisa dimanfaatkan untuk menyerap logam berat di air yang tercemar,” katanya.(viva.co.id)