Perangkat ini memiliki aplikasi yang bisa merencanakan pola makan untuk manajemen diet atau terapi.

Bagi penderita hipertensi atau tekanan darah tinggi dan berbagai kondisi medis tertentu lainnya, konsumsi garam yang berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah. Kondisi ini meningkatkan risiko kemungkinan komplikasi jantung. Untuk membantu memantau asupan garam, para peneliti di Georgia Institute of Technology telah mengembangkan sistem penginderaan nirkabel yang fleksibel dan dapat direntangkan dan dirancang agar nyaman dipakai di mulut.

Tujuannya dalah untuk mengukur jumlah natrium yang dikonsumsi seseorang. Perangkat ini dikembangkan berdasarkan pada membran elastomer yang ultra tipis dan berpori. Sensor yang dikembangkan ilmuwan ini juga terintegrasi dengan sistem elektronik fleksibel mini yang menggunakan teknologi Bluetooth untuk melaporkan konsumsi natrium secara nirkabel ke smartphone atau tablet.

Para peneliti saat ini berencana untuk lebih memaksimalkan ukuran sistem sekecil mungkin sehingga semakin nyaman digunakan. Untuk saat ini, perangkat ini lebih pada menyerupai retainer gigi – seukuran gigi. “Kami dapat secara diam-diam dan secara nirkabel mengukur jumlah natrium yang diambil orang dari waktu ke waktu,” jelas Woon-Hong Yeo, asisten profesor di Woodruff School of Mechanical Engineering di Georgia Institute of Technology.

“Dengan memonitor natrium secara real-time, alat itu nantinya, suatu hari dapat membantu orang yang perlu membatasi asupan natrium serta membantu seseorang untuk belajar mengubah kebiasaan makan dan pola makan mereka,” tambah Hong Yeo. Bagaimana detail dari perangkat tersebut ? para peneliti melaporkan temuan mereka secara detail para jurnal Proceedings of National Academy of Sciences, awal Mei lalu.

Perangkat ini telah diuji pada tiga peserta dewasa yang terlibat dalam penelitian ini dimana mereka memakai sistem sensor hingga satu minggu sambil makan makanan padat dan cair termasuk jus sayuran, sup ayam dan keripik kentang. Menurut American Heart Association, orang Amerika rata-rata mengonsumsi lebih dari 3.400 miligram sodium setiap hari.

Ini jauh lebih banyak dari batas yang disarankan atau di rekomendasikan yakni 1.500 miligram per hari. Asosiasi itu meneliti seribu orang dewasa dan menemukan bahwa “sepertiga dari kelompok yang diterliti mengatakan mereka tidak dapat memperkirakan berapa banyak natrium yang mereka makan. “Dan 54 persen lainnya mengira mereka makan kurang dari 2.000 miligram natrium sehari,” kata Hong Yeo.

Sistem pengendali natrium baru ini dapat mengatasi tantangan itu dengan membantu penggunanya untuk melacak berapa banyak garam yang telah mereka konsumsi. “Perangkat kami dapat memiliki aplikasi untuk banyak tujuan berbeda yang melibatkan perilaku makan untuk manajemen diet atau terapi,” tambah Yeo.

Kunci untuk pengembangan sensor intraoral adalah penggantian plastik tradisional dan elektronik berbasis logam dengan komponen biokompatibel dan ultrathin yang terhubung menggunakan sirkuit mesh. Sensor sodium tersedia secara komersial, tetapi Yeo dan rekannya mengembangkan versi mikro-membran yang fleksibel untuk diintegrasikan dengan sirkuit miniatur hibrida.

“Seluruh paket penginderaan dan elektronik itu terintegrasi ke bahan lembut yang dapat ditoleransi oleh pengguna,” Yeo menjelaskan. “Sensor ini nyaman dipakai, dan data darinya dapat ditransmisikan ke smartphone atau tablet. Akhirnya informasi itu dapat sampai ke dokter atau profesional medis lainnya untuk pemantauan jarak jauh,” imbuh Yeo.

Desain yang fleksibel dimulai dengan pemodelan komputer untuk mengoptimalkan sifat mekanik perangkat untuk digunakan dalam rongga mulut yang melengkung dan lembut. Para peneliti kemudian menggunakan model mereka untuk merancang sirkuit nanomembran yang sebenarnya dan memilih komponen yang digunakan.

Perangkat dapat memonitor asupan natrium secara real-time, dan mencatat jumlah asupan hariannya. Dengan menggunakan aplikasi, sistem dapat menyarankan pengguna yang merencanakan atau mengarur berapa banyak garam yang akan mereka konsumsi serta berapa yang sudak mereka konsumsi dalam makannya,.

Perangkat ini juga dapat “berkomunikasi” dengan smartphone hingga sepuluh meter. Langkah selanjutnya untuk sensor natrium adalah untuk memperkecil ukuran perangkat dan mengujinya dengan pengguna yang memiliki kondisi medis untuk mengatasi: hipertensi, obesitas atau diabetes. Para peneliti ingin membuang baterai kecil, yang harus diisi ulang setiap hari untuk menjaga sensor tetap beroperasi.

Salah satu pilihan adalah untuk menyalakan perangkat secara induktif, yang akan menggantikan baterai dan sirkuit kompleks dengan kumparan yang bisa memperoleh daya dari pemancar di luar mulut. Proyek ini dikembangkan dari sebuah riset jangka panjang untuk menghasilkan sistem yang dapat merasakan rasa manis, pahit, pH dan rasa asin. Pekerjaan itu dimulai di Virginia Commonwealth University, di mana Yeo adalah asisten profesor sebelum bergabung dengan Georgia Tech.(koran-jakarta.com)