Foto: Shutterstock

Dengan teknologi yang dikembang­kan ilmwuan di Washington State University ini, tanggal kadalu­warsa pada susu akhirnya bisa menjadi sesuatu yang usang dari masa lalu.

Para peneliti dari Depar­temen Teknik Sistem Biolo­gi atau Biological Systems Engineering (BSE) di WSU dan School of Food Science serta departemen lainnya di WSU telah mengembangkan sebuah sensor yang dapat ‘mencium’ apakah susu masih dalam ke­adaan baik atau sudah rusak.

Shyam Sablani, profesor di bidang BSE mengatakan Sensor tersebut terdiri dari nanopartikel berlapis kimia yang bereaksi terhadap gas yang dihasilkan oleh susu dan pertumbuhan bakteri yang menunjukkan pembusukan. Sensor juga tidak menyentuh ASI secara langsung.

“Jika makanan membu­ruk, sebagian besar makanan menghasilkan senyawa yang mudah menguap yang baunya tidak enak,” kata Sablani. “pembusukan berasal dari per­tumbuhan bakteri. Tapi kamu tidak bisa mencium semua itu sampai kamu membuka wadah,” kata Sablani.

Sensor mendeteksi gas yang mudah menguap ini dan berubah warna. Terobosan ini pada tahap awal, tetapi Sablani dan rekan-rekannya menunjukkan dalam sebuah makalah yang diterbitkan da­lam jurnal Food Control bahwa reaksi kimia mereka bekerja di lingkungan laboratorium yang terkendali.

Langkah selanjutnya untuk tim adalah mengembang­kan cara untuk menunjukkan secara visual berapa lama produk sebelum rusak. Saat ini sensor hanya menunjukkan apakah ASInya ok atau rusak.

Meskipun masih awal, Sa­blani membayangkan bekerja dengan industri makanan untuk mengintegrasikan sen­sornya ke dalam tutup plastik botol susu sehingga konsumen dapat dengan mudah melihat berapa lama lagi produk ter­sebut akan tetap segar.

Satu masalah dengan tang­gal kedaluwarsa yang saat ini ada adalah mereka didasarkan pada skenario kasus terbaik.

“Tanggal kedaluwarsa pada produk dingin atau beku ha­nya akurat jika telah disimpan pada suhu yang benar sepan­jang waktu,” kata Sablani.

Penyalahgunaan suhu, atau waktu yang dihabiskan suatu produk di atas suhu lemari es, sangat umum, katanya. Dan kondisi ter­sebut bisa terjadi selama pengiriman, atau jika kon­sumen lama dalam perja­lanan pulang dari toko.

“Kita harus bekerja dengan industri untuk membuat ini bekerja,” kata Sablani. “Tetapi kami yakin bahwa kami dapat berhasil dan membantu meningkat­kan keamanan pangan dan umur simpan bagi konsu­men,” kata Sablani. (koran-jakarta.com)