Para peneliti berhasil menemukan material atau bahan baru yang bisa membuat detektor biomolekul. Material ini sangat sensitif serta sel surya yang lebih efisien.

Melalui sebuah riset yang dilakukan, Para peneliti di Singapore University of Technology and Design (SUTD) berhasil merekayasa nanomaterial murah baru. Material baru ini memiliki aplikasi yang cukup luas mulai dari detektor biomolekul hingga konversi energi matahari.

Kunci dari kinerja luar biasa pada material ini adalah struktur nano, yang sangat berinteraksi dengan cahaya tampak dan inframerah. Nanomaterial ini mudah dilapisi dengan bahan lain, termasuk plastik, sehingga memberi mereka fungsi-fungsi baru.

Nanomaterial dapat digunakan untuk meningkatkan sel surya karena kemampuanya dalam menyerap cahaya, dan sebagai tambahan strukturnya dapat direkayasa untuk mendeteksi jejak biomolekul secara optik.

Bahannya terdiri dari partikel perak, dimana 1000 kali lebih kecil dari helaian rambut manusia. Tidak seperti metode lain yang menggunakan struktur nano, metode fabrikasi untuk nanomaterial ini tidak memerlukan asam dan dilakukan pada suhu kamar.

Ini berarti bahwa material dapat dilapisi ke berbagai substrat, termasuk plastik fleksibel. Asisten SUTD Profesor Robert Simpson mengatakan , bahan ini dapat disimpan pada suhu kamar pada berbagai substrat tanpa pola atau asam.

Sejauh ini peneliti telah menyimpan material lebih dari 100 mm diameter plastik, Si dan Silica sampel. Ini metode fabrikasi area satu langkah besar membuat bahan industri relevan.

“Memang, struktur nano tumbuh menggunakan teknik yang dimodifikasi, yang biasanya digunakan untuk memproduksi film berwarna pada kaca jendela area besar,” kata Simpson.(koran-jakarta.com)