Teknologi yang dikembangkan ilmuan ini merupakan perangkat portabel yang mampu mendiagnosis cedera otak ringang dengan hanya menggunakan setetes darah dan hanya dalam waktu sepuluh menit.

Setiap tahunnya, jutaan orang dirawat di rumah sakit ka­rena dugaan cedera otak ringan. Saat ini, satu-satu­nya diagnosis yang dapat diandal­kan adalah CT Scan. Sayangnnya perangkat ini hanya tersedia di beberapa rumah sakit.

Tak hanya itu, metode CT Scan juga membuat pasien terpapar ra­diasi. Saat ini para peneliti berhasil mengembangkan perangkat kecil yang mampu menganalisis kemung­kinan adanya cedera otak ringan. Yakni dengan mengukur tingkat protein dalam darah melalui setetes darah.

Setidaknya tiga juta orang dira­wat di rumah sakit di Eropa setiap tahunnya karena dugaan kasus ce­dera otak traumatis ringan (mTBI). Namun 90 persen dari pasien ini akan pulang dengan selamat, karena tidak ada trauma yang terdeteksi.

Saat ini, satu-satunya diagnosis yang dapat diandalkan adalah CT Scan, yang hanya tersedia di bebe­rapa rumah sakit. Padahal, selain mahal, juga ada risiko pasien terpa­par radiasi.

Para peneliti dari University of Geneva (UNIGE), bekerja sama dengan Rumah Sakit Barcelona, Madrid dan Seville, telah mengem­bangkan perangkat kecil – Point-of-Care Test (POCT). Perangkat ini mampu menganalisis tingkat protein dalam darah dan memungkinkan untuk diagnosis kemungkinan ce­dera otak traumatis ringan hanya dengan setetes darah.

Temuan ini sendiri dijelaskan dalam PLOS ONE. Tidak hanya akan meringankan kasus gawat darurat, teknologi ini juga membebaskan pasien dari waktu tunggu yang lama, menghemat waktu pemeriksaan yang mahal.

Terjatuh saat bermain ski, saat menuruni tangga atau pukulan di kepala dapat menyebabkan gejala seperti penglihatan kabur, muntah, kehilangan kesadaran atau ingatan selama sekitar 30 menit.

Kemudian ada risiko trauma otak ringan, yang mewakili lebih dari 90 persen cedera otak yang dirawat di rumah sakit. Tapi benarkah ada lesi otak? Atau apakah gejala-gejala ini hanyalah konsekuensi dari ben­turan akibat goncangan, yang pada akhirnya hanya akan meninggalkan benjolan?

Saat ini, pasien yang terluka harus pergi ke ruang gawat darurat rumah sakit yang dilengkapi dengan CT Scan, pemeriksaan mahal yang mengirimkan sinar-X ke otak un­tuk mendeteksi ada atau tidaknya trauma otak.

Karena kasus mereka bukan prio­ritas, seringkali dibutuhkan waktu yang lama bagi sebagian besar pasien untuk pulang tanpa risiko sekuele, kecuali untuk gangguan ingatan yang buruk.

Biomarker untuk trauma

“Kami bertanya-tanya apakah mungkin untuk mengisolasi protein tertentu dimana kehadirannya da­lam darah cenderung meningkat jika terjadi cedera otak traumatis ringan,” kata Jean-Charles Sanchez, profesor di Departemen Kedokteran dan Pusat Biomarker, UNIGE.

“Gagasan kami adalah menemu­kan cara untuk melakukan pemerik­saan cepat yang akan memungkin­kan untuk menentukan apakah atlet dapat kembali ke lapangan atau jika kondisinya memerlukan rawat inap, “kata Sanchez.

Selama syok di kepala, beberapa sel otak rusak dan melepaskan pro­tein yang dikandungnya sehingga jumlahnya akan meningkatkan da­lam darah. Para ilmuwan di rumah sakit UNIGE dan Spanyol kemudian membandingkan darah pasien yang dirawat karena cedera otak trauma­tis ringan tetapi didiagnosis negatif dengan pasien yang benar-benar menderita lesi otak.

Menggunakan analisis proteo­mik, yang dapat menghitung ribuan protein secara bersamaan dan mengamati variasi kadar mereka da­lam darah, mereka secara bertahap mengisolasi empat molekul yang mengindikasikan adanya cedera otak: H-FABP, Interleukin-10, S100B dan GFAP.

“Kami telah memperhatikan bahwa tingkat H-FABP saja me­mungkinkan untuk mengkonfir­masi bahwa tidak ada risiko trauma pada sepertiga pasien yang dirawat setelah syok,” kata Jean-Charles Sanchez. Sisa pasien harus men­jalani CT scan untuk memastikan diagnosis.

Akurasi TBIcheck

Perangkat ini kini masih memer­lukan sejumlah pengembangan le­bih lanjut sebagai sebuah perangkat yang dapat digunakan di manapun, dengan cepat dan sederhana hingga perangkat ini dapat tersedia di apo­tek atau ruang olahraga .

Timnya telah mengembangkan tes diagnostik cepat yang disebut TBIcheck yang terinspirasi dari prinsip pengujian kehamilan yakni dengan menempatkan setetes darah pada kotak plastik 5cm kecil maka pasien akan tahu dalam waktu 10 menit apakah ada risiko trauma ringan, yaitu apakah kadar H-FABP-nya lebih tinggi dari 2,5 nanogram per mililiter darah.

“Jika garis muncul, orang yang terluka harus pergi ke rumah sakit untuk CT scan, jika tidak ada, dia bisa pulang dengan selamat!” kata Jean-Charles Sanchez menambah­kan.

Laporan hasil ditampilkan dalam kata “positif” atau “negatif” dan hasilnya akan dikirimkan ke smart­phone pasien atau melalui Blue­tooth. Tidak ada lagi keraguan!

Temuan ini sendiri sudah di­patenkan oleh UNIGE dan akan dipasarkan mulai tahun 2019. Perangkat ini juga akan terus di­kembangkan agar lebih akurat yakni dengan menggabungkan level H-FABP dan GFAP. Tujuan utama dari riset ini antara lain juga untuk meng­hadirkan biomarker yang mampu mendiag-nosis trauma otak, stroke, dan aneurisma. “Biomarker adalah tambang informasi tentang keadaan kesehatan pasien, terserah kita untuk memecahkan kode mereka,” kata Jean.(koran-jakarta.com)