Peneliti Universitas Gadjah Mada mengolah limbah cangkang kepiting dan udang menjadi bahan pelindung tanaman dari hama dan pengawet makanan alami. Pengembangannya melalui teknologi nanopartikel.

Pengajar dan peneliti Fakultas Farmasi UGN Ronny Martien menjelaskan riset ini dilatari tingginya penggunaan pestisida untuk membasmi hama di perkebunan sayur, terutama di daerah Kopeng, Kabupaten Semarang.

“Ini memang mampu mengurangi hama, tapi berbahaya,”kata Ronny saat jumpa pers tentang riset tersebut di Kantor Humas UGM, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat (10/1).

Menurut dia, Indonesia amat rentan serangan hama. Hal ini karena negeri ini berada di kawasan tropis.

Iklim tropis dengan suhu udara tinggi dan amat lembab membuat jamur, bakteri, dan serangga penggangu tanaman mudah tumbuh dan berkembang biak.

Melihat kondisi itu, Ronny coba mencari solusi. selama ini, ia telah mendalami riset nanopartikel.

Ia pun mencari bahan alam untuk diteliti melalui teknologi nano untuk memecahkan masalah penggunaan pestisida.

Limbah cangkang pada kepiting dan udang pun dipilih sebagai materi bahan pestisida alami itu. Cangkang tersebut mengandung senyawa kitin untuk diolah sebagai kitosan lewat teknologi nano.

Kitosan mengandung antimikrobia yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur pengganggu tanaman.

Namun berbeda dengan pestisida, kitosan tidak beracun, tidak berbahaya bagi makhluk hidup, dan dapatterurai secara alami.

Kitosan berukuran nanopartikel ini berwujud cairan yang disemprotkan ke tanaman. Bukan seperti pestisidan yang membunuh hama, nanokitosan ini untuk melapisi tanaman dan melindungi dari serangan hama.

“Ibaratnya, kalau kita tidak ingin sakit waktu hujan, ya pakai jaket atau jas hujan,” ujar dia.

Bukan hanya mampu melindungi dari hama, kitosan juga mampu menyuburkan tanaman. “Formula ini mempunyai kemampuan mengikat unsur hara di alam sehingga meningkatkan produktivitas tanaman,” ujarnya.

Hasil riset nanokitosan untuk melindungi tanaman dari hama ini telah diterapkan untuk perkebunan sayur di Kopeng dan Tawangmangu, Jawa Tengah, dan sawah di Lombok Barat. Ronny mengklaim, produktivitas tanaman meningkat hingga nyaris dua kali lipat.

Selain manfaat itu, nanokitosan juga dikembangkan sebagai pengawet makanan secara alami. Formula ini mampu menjaga kualitas buah, sayur, ikan, hingga sambal. “Bisa memperpanjang umur simpan produk makanan hingga tiga bulan,” ujarnya.

Keunggulan lain pengawet organik ini juga tidak mengubah rasa, warna, dan tekstur juga tidak menimbulkan bau pada makanan. Untuk penerapan dua hasil riset ini, Ronny memproduksi formula ini bersama sebuah perusahaan pangan di Semarang dengan merek menggunakan merek Dewaruci.

“Saya juga coba ke tahu dan bakso yang selama ini diawetkan menggunakan formalin. formalin tidak disukai, tapi selama ini juga tidak ada solusi,” ujarnya.(gatra.com)