Foto :Istimewa

Peneliti membuat perangkat penciuman buatan yang sangat peka terhadap senyawa yang menyebabkan bau busuk.

Makanan harus dijaga agar tetap segar. Tapi, adakalanya makanan dalam kondisi tertentu, tidak layak makan. Bau yang kuat menjadi indikator kondisi makanan yang sudah tidak layak di konsumsi dan membusuk.

Kini ada cara baru untuk mencium bau busuk sebagaimana sebelumnya. Yakni dengan mengembangkan “bioelectronic nose”, sebuah perangkat bau yang mampu mendeteksi beragam bau, bahkan bau mayat.

Dalam laporakan American Chemical Society (ACS) Nano, para peneliti telah mengembangkan “hidung” bioelektronik yang secara khusus dapat mendeteksi keberadaan senyawa penting pada proses pembusukan.

Perangkat ini bahkan bisa mendeteksi pembusukan pada tingkat rendah, yang memungkinkan orang untuk dapat melakukan berbagai tindakan sebelum bau busuk menyebar.

Hidung bioelektronik ini dapat mendeteksi makanan yang membusuk. Selain itu juga bisa digunakan untuk membantu menemukan korban bencana alam atau kejahatan yang tersembunyi.

Saat makanan mulai membusuk, bau menjijikan yang kita temukan berasal dari senyawa yang dikenal dengan kadaverine. Zat yang sama juga bertanggung jawab atas bau busuk dari tubuh yang membusuk, atau mayat-mayat yang mulai membusuk.

Senyawa tersebut merupakan hasil reaksi bakteri yang melibatkan lisin, yang merupakan asam amino yang biasa ditemukan pada berbagai produk makanan.

Sebuah penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa reseptor zebrafish memiliki afinitas untuk kadaverin. Untuk membuat reseptor ini di laboratorium, ilmuwan telah beralih ke E. coli sebagai sel inang karena dapat dengan mudah memproduksi sejumlah besar protein. Namun produksi reseptor pada E. coli menjadi tantangan tersendiri karena perlu di dalam membran.

Salah satu cara untuk melakukan ini adalah dengan membuat protein dalam sel bakteri dan menyusunnya kembali dalam nanodiscs, yang merupakan struktur ramah-air yang mirip membran sehingga reseptor dapat masuk.

Pada dasarnya, peneliti Seunghun Hong dan rekannya Tai Hyun Park yang mengembangkan perangkat ini, ingin melihat apakah mereka bisa menempatkan reseptor ke nanodiscs untuk membuat detektor yang lebih sensitif dan spesifik untuk kadaver.

Para peneliti berhasil menghasilkan salinan reseptor di E. coli dan mengumpulkannya menjadi nanodiscs. Nanodiscs yang mengandung reseptor kemudian ditempatkan pada orientasi khusus pada transistor nanotube karbon, yang melengkapi hidung bioelektroniknya.

Selama pengujian dengan senyawa uji yang dimurnikan dan dengan menggunakan sampel daging salmon dan daging sapi, hidung bioelektrik ini nyatanya selektif dan sensitif untuk kadaver, bahkan pada tingkat rendah sekalipun.

Meskipun harus didukung dengan pengembangan jangka panjang, namun menurut para peneliti, detektor hidung bioelektrik ini suatu saat nanti bisa berguna untuk menemukan mayat-mayat yang sudah tertimbun rentuhan dalam kasus bencana alam atau mayat-mayat yang belum ditemukan. Pasalnya, senyawa yang sama juga diproduksi saat seseorang meninggal dunia.(koran-jakarta.com)