Pic.Pixabay

Konsumsi energi di dunia terus meningkat dari tahun ke tahun. Berdasarkan riset yang dilakukan sebelumnya, konsumsi energi untuk pendingin dan pemanas ruang merupakan konsumsi energi terbesar dari sebuah bangunan atau gedung.

Sejak lama, beragam teknologi telah dikembangkan oleh para ilmuwan untuk bagaimana mengurangi konsumsi energi pada dua piranti tersebut, mulai dari alat pendingin dan pemanas ruangan hemat energi hingga sejumlah terknologi lain.

Termasuk di antaranya teknologi enkapsulasi maupun beragam perangkat alat kontrol efisiensi energi. Enkapsulasi sendiri merupakan sebuah proses atau teknik untuk menyaring inti yang berupa suatu senyawa aktif baik itu padat, cair, gas,ataupun sel dengan suatu bahan pelindung tertentu yang dapat mengurangi kerusakan senyawa aktif tersebut.

Proses enkapsulasi membantu memisahkan material inti dengan lingkungannya hingga material tersebut terlepas atau terhubung ke lingkungan. Biasanya enkapsulasi banyak digunakan dalam produksi flavor kering, makanan seperti penyedap rasa, pemanis buatan, ragi dan produk lainnya.

Teknologi ini memiliki sejumlah keuntungan seperti pengendalian pelepasan bahan yang terenkapsu­lasi, peningkatan stabilitas suhu dan berbagai kelebihan lainnya.

Dalam teknologi enkapsulasi yang dikembangkan di malaysia, teknologi ini berperan dalam mengikat suhu panas dan juga me­lepaskannya saat kondisi ruangan atau bangunan lebih dingin.

Meskipun, belum diketahui bera­pa besar penghematan penggunaan energi melalui teknologi enkapsulasi berbasis nano pada bangunan atau gedung ini, namun dari sejumlah riset, sistem pengendalian energi bisa mengurangi konsumsi energi hingga 57 persen.

Dengan sifat-sifat inilah, teknologi ini memungkinkan adanya fase perubahan material, untuk menyimpan energi panas saat kondisi sekitar panas dan melepaskan energi panas saat kondisi sekitar lingkunganya dalam kondisi dingin.

Peneliti di Mexico City itu mengatakan, jika digunakan sebagai komponen bangunan pasif atau aktif, teknologi ini dapat membantu mengendalikan fluktuasi suhu di dalam bangunan intern hingga menghasilkan gedung yang nyaman.

Disebutkan bahwa dengan teknologi ini maka akan mengurangi ketergantungan penghuni gedung terhadap penggunaan AC di dalamnya. Hal ini sekaligus juga untuk mengurangi ketergantungan pada alat pemanas ruangan saat kondisi lingkungan dingin.

Artinya, secara langsung akan mengurangi konsumsi listrik dan secara tidak langsung mengurangi emisi karbon dioksida. Teknologi ini juga di klaim sangat aplikatif. Kelebihan lain dari teknologi ini juga tidak akan memengaruhi komponen bangunan dan tidak akan memberikan efek negatif terhadap kekokohan bangunan.

Berdasarkan penelitian yang selama ini dilakukan, menunjuk­kan bahwa suhu sebuah bangun­an dan sekitarnya semakin panas, panas terik, dan lembab dengan penggunaan sistem pendinginan udara yang semakin tinggi. Sehing­ga teknologi ini membantu untuk hemat dalam konsumsi listrik.(koran-jakarta.com)