Nanoteknologi, ilmu yang berhubungan dengan partikel super-mini, berpotensi membantu makanan kita segar lebih lama dan menciptakan cara yang sama sekali baru untuk memproduksi makanan lewat fotosintesis.

Sebagai contoh, nanopartikel dari perak yang sangat kecil, yang bahkan dalam jumlah jutaan pun masih bisa pas dalam sebuah bulir pasir, bisa digunakan untuk pengemasan makanan sebagai sebuah alat anti-bakteri yang mampu memperpanjang usia produk.

Profesor Thomas Faunce dari Australian National University mengungkapkan, ada banyak kemajuan yang dibawa teknologi ini, namun ada beberapa kelompok seperti ‘Friends of the Earth’ yang sangat menyoroti masalah tersebut.

“Kontroversi terus berlanjut, memang mudah untuk menjabarkan resiko dan saya pikir itu justru salah. Namun pada saat yang sama, tak ada keraguan bahwa temuan seperti nanoperak, contohnya, yang bisa menurunkan tingkat bakteri atau kontaminasi makanan, bisa sangat berbahaya dalam hal pembuangan lewat saluran air, dalam hal yang bersinggungan dengan rantai makanan,” jelasnya.

Profesor Thomas mengutarakan, salah satu potensi nanoteknologi yang sangat menarik perhatiannya adalah peluang untuk melakukan fotosintesis buatan.

“Jika kita melihat pada hal apa yang kita lakukan di bumi, sebagai sebuah spesies, seluruh aspal dan jalanan serta bangunan, mereka semuanya biasa. Daya tarik sebenarnya dari fotosintesis buatan secara global, adalah menggunakan tiap jalan, rumah, jembatan, untuk merubah semuanya ke dalam sebuah struktur yang mampu berfotosintesis lebih daripada tanaman,” ujar sang Profesor.

Butuh beberapa saat sebelum kita melihat bangunan yang dilapisi nanopartikel, yang dapat memproduksi tepung lewat fotosintesis buatan. Namun Profesor Thomas berharap, banyaknya jumlah konferensi di masa mendatang akan mampu mempromosikan pentingnya ide nanoteknologi tersebut.(pikiran-rakyat.com)