Menggunakan nanoteknologi, para peneliti telah mengembangkan detektor cepat pertama untuk dopamin. Yakni bahan kimia yang punya manfaat dalam berbagai penyakit seperti parkinson, depresi, dan beberapa kanker.

Lebih dari setengah juta orang di Amerika Serikat mengalami parkinson dan depresi berat yang meme­ngaruhi sekitar 16 juta orang dewasa per tahun. Hal itu antara lain dise­babkan efek dopamin.

Studi menunjukkan terlalu banyak dopamin dapat dikaitkan dengan beberapa kanker. Sementara dopamin rendah dapat dikaitkan dengan penyakit Parkinson dan depresi. Dopamin adalah senyawa atau zat pembawa pesan kimia pen­ting di otak.

Teknik baru yang dikembang­kan di University of Central Florida (UCF) hanya membutuhkan bebera­pa tetes darah, dan hasilnya tersedia dalam hitungan menit, bukan jam. Karena itu tidak diperlukan labo­ratorium terpisah untuk memproses sampel.

Saat ini, metode yang ada untuk mendeteksi dopamin memakan waktu, membutuhkan persiapan sampel yang ketat. Termasuk dalam pemisahan plasma darah, serta per­alatan laboratorium khusus.

Namun, dengan perangkat ini, pengujian yang dilakukan hanya dengan beberapa tetes darah pada chip segi empat seukuran tela­pak tangan. Peneliti beranggapan memantau dopamin sehingga kita dapat menyesuaikan dosis medis kita untuk membantu mengatasi masalah dalam tubuh.

“Neurotransmitter seperti dop­amin adalah bahan kimia penting untuk memantau kesehatan kita secara keseluruhan. Kita juga dapat membantu menyaring gangguan saraf seperti penyakit Parkinson, berbagai kanker otak, dan me­mantau kesehatan mental,” kata Debashis Chanda, seorang profesor di Teknologi NanoScience UCF dan peneliti utama studi ini.

Plasma dipisahkan dari darah di dalam chip. Partikel nano oksida Cerium, yang melapisi permukaan sensor, secara selektif menangkap dopamin pada tingkat mikroskopis dari plasma.

Penangkapan molekul dopamin selanjutnya mengubah cara ca­haya dipantulkan dari sensor dan menciptakan pembacaan optik yang menunjukkan tingkat dopamin.

Sudipta Seal, seorang profesor teknik dan ketua Departemen Ilmu dan Teknik Material UCF, mengata­kan bahwa penggunaan nanopar­tikel cerium oxide adalah bagian penting dari kesuksesan sensor tersebut. “Membuat sensor menjadi peka terhadap dopamin merupakan tantangan bagi para peneliti untuk sementara waktu, tetapi menggu­nakan struktur nano oksida cerium yang diubah pada platform pengin­deraan adalah kunci dalam mem­buat sensor bekerja,” kata Seal.

Chanda bersama-sama mengem­bangkan sensor dengan Abraham Vázquez-Guardado, lulusan dari UCF’s College of Optik dan Photo­nics dan sekarang menjadi post­doctoral fellow di Northwestern University.

Vázquez-Guardado mengatakan pengurangan langkah dan pemros­esan membuat tes ini efektif, dan itu juga dapat dilakukan di sisi pasien daripada di lab terpisah.

“Tidak perlu preprocessing,” kata­nya. “Rencana kami adalah mem­buat jenis deteksi yang jauh lebih cepat, bebas enzim,” katanya.(koran-jakarta.com)