Foto : Istimewa

Teknologi berbasis kertas yang mampu mendeteksi penyakit lyme yang efektif dan lebih terjangkau.

Setelah seharian melakukan penjelajahan di hutan, hal terakhir yang sering dialami para penjelajah adalah serangan kutu pada kulit mereka. Beberapa hari setelah mencabut serangga atau kutu penghisap darah ini, umumnya para penjelajah tadi akan mengalami ruam yang lebih menyerupai mata banteng, inilah salah satu tanda dari munculnya penyakit Lyme.

Sayangnya tidak semua yang terjangkit penyakit Lyme mengalami ruam-ruam pada bagian kulit yang terinfeksi. Saat ini, para peneliti yang melaporkan di ACS Nano bahwa mereka telah merancang sebuah metode tes darah yang secara cepat dan sensitif mampu mendiagnosis penyakit ini pada tahap awal. Penyakit Lyme atau dalam bahasa Inggris disebuat sebagai Lyme disease merupakan salah satu jenis penyakit menular pada manusia dan hewan dengan perantara atau vektor berupa berupa kutu.

Penyakit ini diberi nama Lyme dari kata Old Lyme, yakni suatu kota di Connecticut dimana kasus ini pertama kali ditemukan. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat mencatat, kasus kejadian penyakit ini di Amerika Serikat mencapai 300.000 kasus pertahun. Lyme disease sendiri dipicu oleh kutu jenis Borrelia burgdoferi.

Yakni bakteri dari golongan Spirochetes. Kutu jenis ini umumnya menghisap darah burung, hewan peliharaan, hewan liar dan juga manusia. Sel B. burgdorferi ditransmisikan ke manusia saat kutu sedang menghisap darah manusia. Gejala awal penyakit ini termasuk ruam kulit yang khas disertai dengan demam, sakit kepala, kedinginan dan nyeri otot.

Jika tidak segera diobati dengan antibiotik, gejala yang lebih parah akan muncul seperi kelumpuhan wajah, nyeri saraf, jantung berdebar, dan artritis dapat terjadi.

Namun, 10-20 persen orang yang terinfeksi sel B Burgdofferi ini tidak mengembangkan ruam, dan tes darah diagnostik yang ada, lambat dan cukup mahal, terkadang kurang sensitif untuk mendeteksi infeksi ini di tahap awal.

Padahal, pengobatan dan penanganan pada masa awal merupakan penanganan dan pengobatan yang paling efektif. Aydogan Ozcan dan rekannya ingin mengembangkan tes darah yang cepat, mudah digunakan dan murah untuk mendiagnosis penyakit Lyme segera setelah infeksi terjadi.

Para peneliti ini mengembangkan teknologi deteksi berbasis kertas genggam untuk mendeteksi antibodi terhadap bakteri B. burgdorferi dalam sampel serum. Perangkat teknologi itu termasuk membran penginderaan yang berisi beberapa bintik-bintik yang meliputi tujuh antigen bakteri dan peptida sintetis.

Antibodi dari sampel serum yang menempel pada bintik terdeteksi dengan larutan yang berubah warna, tergantung pada jumlah antibodi yang ditangkap. Para peneliti mengambil gambar perubahan warna pada ponsel pintar mereka, kemudian menganalisis semua tempat dengan jaringan saraf yang mereka kembangkan yang dapat menentukan apakah sampel positif atau negatif untuk penyakit Lyme.

Ketika diuji pada 50 sampel darah dari orang dengan atau tanpa penyakit Lyme sebagai tahap awal pengujian, hasil pengujian ternyata menunjukkan spesifisitas 96,3 persen dan sensitivitas 85,7 persen. Selain jauh lebih sensitif dari pada tes yang ada, pengujian ini juga hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk menyelesaikan semua prosedur dan biaya yang harus dikeluarkan juga hanya setara 42 sen per tes.(koran-jakarta.com)