Foto: Cifer88 dari Pixabay 

Plastik dibuat dengan biaya yang sangat murah, sehingga lebih murah untuk memproduksi plastik baru dari minyak dan fosil.

Sebuah tim penelitian di Chalmers University of Technology, Swedia, berhasil mengembangkan sebuah teknologi baru yang unik. Peneliti melakukan sebuah proses yang cu­kup efisien untuk memecah limbah plastik ke tingkat molekuler. Gas-gas yang dihasilkan kemudian dapat diubah kembali menjadi material plastik baru, dengan kualitas yang lebih kuat atau sama seperti aslinya.

Temuan itu tentu saja bisa ber­manfaat untuk penelitian selan­jutnya. Bahkan, bisa mengurangi limbah plastik. Seperti diketahui, Fakta bahwa plastik tidak mudah terurai sehingga bisa menumpuk di ekosistem kita.

Hal itu merupakan salah satu masalah lingkungan utama yang di­hadapi saat ini. Tetapi di Chalmers, sebuah tim penelitian yang dipim­pin oleh Henrik Thunman, Profesor Teknologi Energi, melihat sifat keta­hanan plastik ini sebagai aset.

Fakta bahwa itu tidak terdegra­dasi memungkinkan untuk peng­gunaan lain, daur ulang lain untuk menciptakan nilai sebenarnya dari plastik bekas dan menjadi tambahan nilai ekonomis tersendiri bagi para pengumpulnya.

“Kita tidak boleh lupa bahwa plastik adalah bahan yang fantastis. Plastik mampu memberi kita produk impian kita selama ini. Masalah­nya adalah plastik dibuat dengan biaya yang sangat murah, sehingga lebih murah untuk memproduksi plastik baru dari minyak dan fosil gas dari pada menggunakan kembali sampah plastik,” kata Henrik Thun­man.

Sekarang, dengan bereksperimen dengan pemulihan kimia melalui perengkahan uap plastik, para pe­neliti telah mengembangkan proses yang efisien untuk mengubah plastik bekas menjadi plastik berkualitas baru.

“Dengan menemukan suhu yang tepat – yaitu sekitar 850 derajat Cel­cius – dan tingkat pemanasan dan waktu tinggal yang tepat, kami telah dapat menunjukkan metode yang diusulkan pada skala di mana kami mengubah 200 kg sampah plas­tik per jam menjadi sesuatu yang berguna sebagai campuran gas. Itu kemudian dapat didaur ulang pada tingkat molekuler menjadi bahan plastik baru yang berkualitas murni,” kata Henrik Thunman.

Eksperimen

Pada 2015, sekitar 350 juta ton limbah plastik dihasilkan di selu­ruh dunia. Secara total, 14 persen dikumpulkan untuk pemulihan material – 8 persen didaur ulang menjadi plastik dengan kualitas lebih rendah, dan 2 persen menjadi plastik dengan kualitas yang sama seperti aslinya. Sekitar 4 persen hi­lang dalam proses itu.

Secara keseluruhan, sekitar 40 persen limbah plastik global pada 2015 diproses setelah pengumpulan, terutama melalui pembakaran un­tuk pemulihan energi atau pengu­rangan volume – melepaskan karbon dioksida ke atmosfer.

Sisanya – sekitar 60 persen – pergi ke TPA. Hanya sekitar 1 persen yang tersisa tidak terkumpul dan bocor ke lingkungan alami. Meskipun hanya persentase kecil, namun ini merupa­kan masalah lingkungan yang cukup signifikan, karena jumlah keselu­ruhan sampah plastik sangat tinggi, dan karena degradasi alami plastik sangat lambat, ia menumpuk dari waktu ke waktu.

Model saat ini untuk daur ulang plastik cenderung mengikuti apa yang dikenal sebagai ‘hierarki lim­bah’. Ini berarti plastik berulang kali mengalami degradasi, ke kualitas yang lebih rendah dan lebih rendah sebelum akhirnya dibakar untuk pe­mulihan energi.

“Alih-alih ini, kami fokus pada menangkap atom karbon dari plastik yang dikumpulkan. Kami meng­gunakannya untuk membuat plastik baru dengan kualitas baru, yaitu kembali ke puncak hirarki limbah, menciptakan sirkularitas nyata,” kata Thrunman

Saat ini, plastik baru dibuat dengan menghancurkan fraksi mi­nyak dan gas dalam perangkat yang dikenal sebagai ‘cracker’ di pabrik petrokimia. Di dalam cracker, blok bangunan yang terdiri dari molekul sederhana dibuat.

Ini kemudian dapat dikombi­nasikan dalam banyak konfigurasi yang berbeda. Teknik itu menghasil­kan beragam plastik yang kita lihat dalam masyarakat kita.

Untuk melakukan hal yang sama dari plastik yang terkumpul, proses baru perlu dikembangkan. Apa yang sekarang disajikan oleh para peneliti Chalmers adalah aspek teknis.

Peneliti mengembangkan tentang bagaimana proses semacam itu da­pat dirancang dan diintegrasikan ke dalam pabrik petrokimia yang ada, dengan cara yang hemat biaya. Pada akhirnya, pengembangan semacam ini memungkinkan transformasi yang sangat signifikan dari pabrik petrokimia saat ini menjadi kilang daur ulang di masa depan.

“Kami sekarang beralih dari uji coba awal, yang bertujuan untuk menunjukkan kelayakan proses, untuk berfokus pada pengembang­an pemahaman yang lebih rinci. Pengetahuan ini diperlukan untuk meningkatkan proses dari beberapa ton plastik sehari, menjadi ratusan ton. Saat itulah menjadi menarik se­cara komersial,” kata Henrik.

“Proses ini berlaku untuk semua jenis plastik yang dihasilkan dari sistem limbah kami, termasuk yang dibuang di tempat pembuangan sampah”. (koran-jakarta.com)