Hasil riset terbaru dari the University of Rochester berhasil menemukan teknik terbaru untuk mencegah sebuah kapal tenggelam. Sebuah tim peneliti berhasil memodifikasi material logam yang tidak bisa tenggelam di dalam air.

“Walaupun logam tersebut telah rusak atau berlubang, tetap akan mampu mengapung di permukaan air,” kata Chunlei Guo, yang memimpin penelitian ini, seperti yang dilansir dalam Business Insider.

Proyek riset ini didanai oleh angkatan bersenjata AS, the National Science Foundation, dan the Bill and Melinda Gates Foundation, sebuah Lembaga amal yang di didirikan oleh pendiri Microsoft Bill Gates dan istrinya, Melinda.

Penemuan ini, selain akan diaplikasikan dalam pembuatan konstruksi kapal, para peneliti juga berharap nantinya bisa digunakan untuk kegunaan lainnya, seperti untuk membangun kota terapung.

Pada kapal laut, untuk bisa selalu mengapung, kapal harus memiliki berat lebih kecil dari volume air yang digantikannya. Ketika kompartemen di kapal Titanic dibanjiri air, kapal menjadi lebih berat dari berat dari air yang digantikannya, sehingga kapal ini tenggelam.

Untuk mencegah terjadinya hal yang sama, tim riset the Rochester berusaha merancang metode yang bisa mengeluarkan air secara konstan dari kapal.

Para ilmuwan menggunakan laser untuk memahat lekukan kecil pada permukaan dari sebuah piringan aluminium. Lekukan ini akan menahan udara, membentuk sebuah pembatas pengaman sehingga air akan tergelincir dari permukaan logam.

Dan jika logam berada di bawah air dalam waktu yang lama, para peneliti menemukan bahwa lekukan tersebut akan terisi oleh air bukan oleh udara. Untuk itu mereka menempatkan dua buah piringan logam yang telah terpahat dengan laser pada dua sisi dari sebuah pilar kecil, dengan kedua sisi yang telah terpahat menghadap ke dalam.

Mereka membuat celah yang sangat kecil pada bagian tengah diantara kedua piringan tersebut, sehingga air tidak bisa masuk kedalamnya, menghasilkan gelembung udara yang menyebabkan logam tersebut mengapung.

Kemudian, para peneliti melakukan percobaan dengan menahan logam tersebut di dalam air dengan memberikan berat tambahan, dan membiarkannya selama dua bulan untuk melihat apakah setelah itu logam ini akan kehilangan daya apungnya. Dan ketika mereka mengangkat beban tambahannya. Logam tersebut masih tetap naik ke permukaan.

Dan percobaan terakhir untuk melihat apakah logam ini bisa bertahan setelah mengalami kerusakan parah. Mereka membuat lubang dengan menggunakan bor pada piringan tersebut dan kemudian menempatkannya ke dalam air. Hasilnya, berapapun jumlah lubang yang mereka buat pada piringan tersebut, logam tersebut tetap mampu mengapung.

(J. Adam Fenster/University of Rochester)

Dalam sebuah penelitian terbaru, Guo mencoba menggunakan logam tersebut untuk membuat rakit, dan pelampung, atau “kapal dan kendaraan air yang mudah mengapung”. Dia mengatakan bahwa berat dari kapal bukan menjadi faktor yang penting lagi selama permukaan area dari logam cukup besar untuk mengimbanginya.

“Menurut saya ide tersebut sangat cemerlang,” kata Guo, dia juga menambahkan bahwa konfigurasi dari logam ciptaannya “jauh lebih kuat dan juga lebih tahan lama” dibandingkan dengan material lainnya yang pernah diujicobakan untuk digunakan pada kota apung, seperti fiberglass dan batu kapur.

Hasil penelitian Guo juga memperlihatkan bahwa logam ini bisa dengan mudah bersihkan hanya dengan menggunakan beberapa tetes air saja. Guo telah bekerja sama dengan Gates Foundation untuk mengembangkan kemampuan logam ini untuk bisa membantu memperbaiki sanitasi di negara-negara berkembang. Sebagai contoh, membuat kakus dengan bahan baku logam jenis ini, sehingga akan mudah untuk dibersihkan.

“Kemampuan mengapung dari logam ini hanyalah satu dari banyak kemampuan dan keunikan lainnya”, kata Guo.

Dan kendala terbesar yang dihadapi sekarang ini adalah bagaimana cara memproduksi logam ini dalam jumlah besar. Proses pemahatan permukaan logam dengan laser membutuhkan waktu yang cukup lama- sekitar satu jam untuk memahat permukaan seluas satu inci persegi. Dan Guo menyerahkan permasalahan ini pada para pengusaha manufaktur untuk mencarikan solusinya.(ikons.id)