Badan Proyek Riset Lanjut Pertahanan AS membayar para ilmuwan untuk menemukan cara penggunaan senjata dengan menggunakan kekuatan pikiran.

Belum lama ini, Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA), agen dari Departemen Per­tahanan AS yang bertanggung jawab atas pengembangan teknologi baru militer, men­gumumkan akan menerima dana dari program di bawah Nonsurgical Neurotechnology Next-Generation.

Kucuran dana segar itu ditujukan untuk mengem­bangkan teknologi yang akan menyediakan saluran komunikasi dua arah yang cepat dan mulus, antara otak manusia dan mesin tanpa memerlukan operasi.

Untuk mempercepat langkah itu, DARPA diketahui telah membayar sejumlah ilmuwan guna menemukan cara instan membaca pikiran tentara menggunakan sen­jata, seperti rekayasa genetika otak manusia, nanoteknologi dan sinar inframerah.

Tujuan akhirnya tentu penggunaan senjata yang dapat dikendalikan pikiran, seperti segerombolan drone, dengan satu pemikiran atau kemampuan untuk mengir­imkan gambar dari satu otak ke otak lain.

“Hal ini bisa Anda bayang­kan saat seseorang mampu mengoperasikan pesawat tanpa awak atau seseorang yang mungkin menganalisis banyak data dengan cepat hanya mengandalkan ke­mampuan pikiran,” kata Jacob Robinson, asisten profesor bioteknologi di Rice Univer­sity, yang memimpin salah satu dari enam tim bentukan DARPA.

Jacob melanjutkan sebena­rnya ada latensi di mana seseorang dapat berkomu­nikasi dengan mesin dengan cara berkirim sinyal dari otaknya. “Yang kemudian jika dimanfaatkan, seseorang dapat menggerakkan jari atau mulutnya untuk membuat perintah verbal. Jadi ada inter­aksi terhadap sistem cyber atau sistem fisik, melalui kekuatan pemikiran ini juga kita dapat meningkatkan kecepatan inter­aksi,” paparnya.

Perlu diketahui pula langkah penelitian ini menjadi san­gat penting dalam kemajuan teknologi di dunia saat ini. Pas­alnya tak dipungkiri kehidupan manusia telah dibanjiri perang­kat pintar dan gelombang data besar, yang pada akhirnya akan ada aplikasi baik di domain mili­ter maupun sipil yang mengarah pada ‘upaya’ ini.

Untuk mengabulkan impian itu, tim Jacob berencana meng­gunakan virus yang dimodifikasi untuk mengirimkan bahan gene­tik ke dalam sel, yang mereka sebut vektor virus. Langkah ini diambil untuk memasukkan DNA ke neuron spesifik yang akan membuat mereka meng­hasilkan dua jenis protein.

Pengaplikasian Teknologi

Jenis protein pertama yang diaplika­sikan di otak manusia ini bertugas menyerap cahaya, ini memung­kinkan untuk mendeteksi aktivitas saraf. Lalu headset eksternal yang telah disiapkan nanti akan mengirimkan cahaya inframerah yang dapat melewati tengkorak dan masuk ke otak.

Detektor yang terpasang pada head­set kemudian akan mengukur sinyal kecil yang dipantulkan dari jaringan otak untuk menghasilkan pembacaan aktivitas yang dapat digunakan untuk mengetahui apa yang dilihat, didengar, atau hal yang ingin dikerjakan orang tersebut.

Sedangkan protein kedua akan ditargetkan ke nanopartikel magnetik, sehingga neuron satuan kerja utama dari sistem saraf yang berfungsi men­gantarkan impuls listrik dapat dirang­sang secara magnetis untuk menembak ketika headset menghasilkan medan magnet. Ini dapat digunakan untuk menstimulasi neuron sehingga mengin­duksi gambar atau suara dalam pikiran seseorang.

Sebagai bukti konsep, kelompok Ja­cob ini berencana menggunakan sistem tersebut untuk mengirimkan gambar dari korteks visual satu orang ke orang lain. “Memecahkan sandi atau me­nyandikan pengalaman sensorik adalah sesuatu yang kita pahami dengan relatif baik. Di ujung sains yang penuh per­juangan, saya pikir kita dapat mewu­judkannya jika kita memiliki teknologi untuk melakukannya,” sambung Jacob.

Sementara itu, sekelompok lembaga penelitian nirlaba Battelle yang juga ditunjuk DARPA memiliki target yang cukup ambisius yaitu menciptakan koneksi cepat antara pikiran manusia dengan drone.

Ilmuwan riset senior, Gaurav Sharma, yang memimpin tim ini menjabarkan joystick dan kursor kom­puter kurang lebih adalah perangkat satu arah. “Tapi sekarang kita sedang memikirkan satu orang mengendalikan beberapa drone langsung dan itu dua arah, jadi jika drone itu bergerak ke kiri, Anda mendapatkan sinyal sensorik kembali ke otak dan mengatakan ke­pada Anda bahwa itu bergerak ke kiri,” ceritanya.

Rencana kelompok ini semua bergantung pada nanopartikel yang dirancang khusus dengan inti magnetik dan piezoelektrik (satu komponen ele­ktronika) yang dapat mengubah energi mekanik menjadi listrik dan sebaliknya.

Ketika headset yang dirancang khusus untuk menerapkan medan magnet ke neuron yang ditargetkan nanti, inti magnetik akan bergerak dan memberikan tekanan pada kulit luar untuk menghasilkan impuls listrik yang membuat neuron menyala.

Proses ini juga bekerja secara ter­balik, dengan impuls listrik dari neuron penembakan dikonversi menjadi med­an magnet kecil yang diambil detektor di headset.

Menterjemahkan proses itu ke drone, menurut Sharma, tidak akan mudah, tetapi kelompoknya sangat bersemangat terhadap tantangan yang diberikan DARPA. “Perlu disadari pula, otak merupakan batas terakhir dalam ilmu kedokteran. Kami sangat sedikit memahaminya, yang membuatnya sangat menarik untuk melakukan pene­litian di bidang ini,” terangnya.

Apalagi proyek DARPA sangat maju karena menghindari pemasangan teknologi melalui jalur operasi yang tergolong membahayakan. Itu sebab­nya semua teknologi ini menggunakan pendekatan pemantauan otak eksternal seperti electroencephalography (EEG) di mana elektroda melekat langsung ke kulit kepala. Dengan demikian, DARPA sedang mencoba untuk memacu tero­bosan antarmuka otak-komputer yang noninvasif atau invasif minimal (BCIs). (koran-jakarta.com)