Teknologi kain cerdas terus berkembang. Banyak riset yang bertujuan untuk menemukan teknologi kain cerdas untuk digunakan dalam berbagai aplikasi bidang. Sebelumnya, para peneliti dari ARC Centre of Excellence for Electromaterials Science (ACES) juga mengembangkan tekstil cerdas dari nanotube karbon dan serat spandex yang dapat menanggapi stimulus seperti otot atau sendi. Kain cerdas ini dapat dimanfaatkan serupa sensor.

Peneliti utama Dr Javad Foroughi dari ACES menjelaskan bahwa perbedaan utama antara temuan ini adalah bahwa kain cerdas yang diciptakan memiliki fungsi ganda. “Kami telah membuat bahan cerdas sebagai sensor dan terintegrasi ke dalam perangkat seperti lengan lutut yang dapat digunakan untuk memantau pergerakan dari sendi, memberikan data berharga yang dapat digunakan untuk membuat pelatihan pribadi atau program rehabilitasi bagi pemakainya,”kata Dr Foroughi.

“Karya terbaru kami memungkinkan kami untuk mengembangkan pakaian pintar yang bersamaan memonitor gerakan pemakainya dan menyesuaikan pakaian untuk mendukung atau memperbaiki gerakan,” katanya.

Kain cerdas ini, menurut Foroughi, memiliki banyak potensi untuk diaplikasikan, mulai tekstil cerdas untuk robotika dan sensor untuk laboratorium pada perangkat chip. Direktur ACES Prof. Gordon Wallace mengatakan luasnya keahlian yang dibutuhkan untuk mengaktifkan penemuan mendasar ilmu material dan aplikasi mereka ke dalam struktur praktis yang sangat besar.

“Bahan yang dapat memberikan kemampuan, baik sensing dan respons adalah bahan penelitian yang cerdas. Penemuan mendasar ini akan menemukan aplikasi untuk hal yang lebih luas,” kata Wallace. Penemuan kain cerdas ini dilakukan setelah Dr Foroughi melakukan riset proyeknya selama tiga tahun. Tujuan utamanya adalah untuk membuat kelas baru tekstil cerdas.

“Bekerja dengan para ilmuwan kelas dunia seperti Prof Geoff Spinks dan kolaborator Amerika Serikat Prof Ray Baughman memungkinkan untuk menciptakan generasi pertama nanotube karbon 3D rajutan tekstil cerdas,” kata Foroughi.(koran-jakarta.com)