Para peneliti di Tiongkok berhasil mengembangkan sebuah lem biologis yang suatu hari nanti bisa digunakan untuk menghentikan pendarahan yang sulit dikendalikan seperti pendarahan pada jantung dan arteri.

Lem akan menutup luka yang menganga saat terpapar oleh sinar ultra violet, keseluruhan dari prosesnya hanya memakan waktu kurang dari setengah menit. Perubahannya menjadi hidrogel relatif cepat dan tidak beracun. Mampu bertahan pada permukaan licin dan jaringan jantung yang sedang berdenyut.

Meskipun belum diuji pada organ manusia, tetapi prototipenya yang diuji pada hewan, menunjukkan keberhasilannya yang jauh lebih baik daripada penjahitan atau lem bedah lainnya yang tersedia saat ini.

“Ini adalah pertama kalinya perdarahan tekanan tinggi dari jantung yang sedang berdetak dengan lubang penetrasi jantung berdiameter 6 milimeter dengan cepat dihentikan dan luka ditutup secara stabil dengan hanya menggunakan gel matriks dalam 20 [detik] tanpa jahitan,” penulis menyimpulkan, menambahkan bahwa sementara beberapa bahan serupa lainnya telah hadir, pada umumnya mengandung bahan kimia berbahaya dan mungkin memerlukan jahitan tambahan setelahnya.

Gel dapat menahan tekanan darah hingga 290 mmHg, yang jauh lebih tinggi dari apa yang biasanya ditangani oleh kebanyakan dokter dan perawat, dan jauh melebihi apa yang bisa ditangani oleh beberapa jenis perekat lainnya.

Terlebih lagi, karena didasarkan pada struktur jaringan ikat manusia, matriks ekstraseluler lem ini kompatibel dengan organ dan arteri internal, yang memungkinkannya untuk mengikat lebih mudah ke dinding arteri dan jantung.

Hasil dari sebuah pengujian terhadap tiga ekor babi akhirnya selamat dari operasi jantung yang mengancam jiwa. Setelah dirawat selama dua minggu lebih, menunjukkan tanda-tanda penyembuhan alami dengan sedikit peradangan.

Meskipun benar bahwa jantung babi adalah ukuran yang sama dengan hati manusia, tim sekarang perlu membuktikan bahwa temuan mereka sepenuhnya dapat diterjemahkan ke pengaturan secara klinis.

Harapan dari insinyur jaringan Hongwei Ouyang sebagai salah satu penulis studi mengatakan kepada ScienceAlert bahwa produk tersebut siap untuk penggunaan pada bedah manusia dalam waktu 3 sampai 5 tahun ke depan. Studi ini telah dipublikasikan di Nature Communications.  (ikons.id)