Para insinyur di Cornell University melaporkan penemuan mereka tentang permukaan yang dapat diregangkan dengan perubahan halus tekstur 3D yang dapat diprogram, “kulit penyamaran” sintetis yang terinspirasi dari mempelajari dan memodelkan benda asli yang terdapat pada gurita dan sotong. Para insinyur, bersama dengan kolaborator dan ahli biologi cephalopoda Roger Hanlon dari Laboratorium Biologi Laut (MBL), Woods Hole, melaporkan aktuator lunak mereka yang dapat dikontrol dalam tulisan terbitan 13 Oktober di Science.

Gurita dan sotong, secara instan dapat untuk menyembunyikan penampakan mereka dengan menyesuaikan lingkungan sekitar dengan cara mengubah warna kulit dan polanya yang hanya merupakan bagian dari kemampuan kamuflase mereka. Hewan-hewan ini juga dapat dengan cepat mengubah kulit mereka menjadi permukaan 3D yang bertekstur dan kemampuan permukaan kasar mereka menyerupai rumput laut, koral, atau benda-benda lain yang dideteksi dan digunakan untuk berkamuflase.

Dipimpin oleh James Pikul dan Robert Shepherd, materi yang diaktivasi secara pneumatik tim mengambil bentuk dari benjolan 3D, atau papilla, bahwa cephalopoda dapat mengekspresikan seperlima detik untuk kamuflase dinamis, dan kemudian menarik diri untuk berenang menjauh tanpa perubahan yang mengesankan pada papilia.

Papilla adalah contoh hydrostat berotot, struktur biologis yang terdiri dari otot tanpa dukungan kerangka (seperti lidah manusia). Hanlon dan anggota laboratoriumnya, termasuk Justine Allen, sekarang di Brown University, adalah orang pertama yang mendeskripsikan struktur, fungsi, dan biomekanik perubahan 3D papilla ini secara rinci.

“Insinyur telah mengembangkan banyak cara canggih untuk mengendalikan bentuk bahan yang lembut dan mudah diatur, namun kami ingin melakukannya dengan cara sederhana yang cepat, kuat, dan mudah dikendalikan,” kata pemimpin penulis James Pikul, yang saat ini menjadi asisten profesor di Departemen Teknik Mesin dan Mekanika Terapan di University of Pennsylvania.

“Kami tertarik oleh seberapa sukses cephalopoda dalam mengubah tekstur kulit mereka, jadi kami belajar dan mendapat inspirasi dari otot-otot yang memungkinkan cephalopoda mengendalikan tekstur mereka, dan menerapkan gagasan ini ke dalam metode untuk mengendalikan bentuk bahan yang lembut dan mudah diregangkan.”

Para insinyur di balik proyek ini telah mengindikasikan bahwa kulit sintetis mungkin menawarkan beberapa keuntungan penting dalam skenario dimana pengendalian suhu adalah penting. Materi dapat diprogram sedemikian rupa sehingga konfigurasi 2Dnya memantulkan cahaya, sementara pengaturan 3D-nya menyerapnya, mengatur atau memanipulasi suhu sesuai kebutuhan.

Kemampuan untuk cepat beralih antara permukaan 2D yang datar dan eksterior 3D yang bergelombang juga bisa berguna pada objek yang perlu melewati air atau udara. Mengubah jumlah pergeseran yang dihasilkan oleh materi mungkin merupakan cara yang efektif untuk mengatur kecepatan. Inilah salah satu cara utama cumi-cumi menggunakan papilla mereka – perubahan bentuk berfungsi sebagai kamuflase sementara mereka tetap diam, lalu dengan cepat beralih ke permukaan kulit mereka yang halus sehingga secara hidrodinamik memungkinkan untuk melakukan pelarian dengan cepat.(ikons.id) sumber : eurekalert scientific American futurism