Rambut rontok merupakan masalah bagi banyak orang di Indonesia, yang bila terjadi berkepanjangan dapat menyebabkan kebotakan. Penggunaan tonik tentu dapat membantu mengurangi masalah. Tetapi, produk tonik rambut yang dijual di pasaran tidak berbasis akuatik.

Masalah inilah yang membelakangi mahasiswa Jurusan Teknologi Hasil Perairan, Nur Islami Rizki Syukrillah, dalam menciptakan tonik rambut berbahan teripang dan limbah kulit udang.

“Saat ini, penggunaan produk akuatik untuk mengatasi masalah rambut rontok masih langka. Makanya dalam penelitian ini saya merumuskan ramuan kolagen berbasis rambut dari teripang dan kulit udang,” jelasnya, seperti dilansir dari laman IPB, Senin (27/11/2017).

Dalam rumusannya, Nur menggunakan teknologi untuk melarutkan senyawa, meningkatkan penyerapan, dan penetrasi bahan. “Teknologi nano-touch diperlukan untuk bahan aktif untuk menembus folikel rambut dan lapisan epidermis sehingga meningkatkan kinerja bahan aktif,” imbuhnya.

Menurut Nur, kolagen yang dipasarkan saat ini lebih banyak berbahan dari kulit sapi dan kulit babi. Selain diragukan keamanannya, bahan ini jelas tidak halal. Oleh sebab itu, digunakan teripang sebagai pengganti karena hewan itu memiliki kandungan 70% di dinding tubuh. Sementara, kulit udang yang digunakan kaya akan kitin dan kitosan.

Tonik rambut ini telah diuji ke hewan percobaan berupa tikus putih. Rumus tonik rambut terbaik adalah formula 2 dengan penambahan 1% nanokolagen dan 5% nanokitosan sehingga menghasilkan panjang rambut tikus 25,500 ± 1.290 mm dalam waktu 21 hari.

Namun jika tujuannya adalah untuk menebalkan rambut, tambah Nur, maka formula 1 (penambahan kinosan 3% dan kolagen 3%) menunjukkan hasil yang lebih baik dengan berat akhir rambut sebesar 0,13 gram.

Nur berharap, hasil penelitian ini dapat menyumbang pengetahuan tentang aplikasi kolagen dan citosan. “Saya harap penelitian ini bisa menjadi upaya pengembangan produk akuatik sebagai basis pembuatan kosmetik, dan menjadi referensi dan penemuan baru,” tutupnya.(news.okezone.com)