Pixabay

Bahan yang dikembangkan oleh para peneliti dari Stanford dapat mengurangi insiden dan tingkat keparahan pada kebakaran hutan. Bahan ini, berupa cairan seperti gel yang ramah lingkungan yang membantu menghambat kebakaran lahan liar yang mampu melekat pada tanaman hingga berbulan-bulan.

Dengan mencegah terjadinya kebakaran hutan sejak awal, cara seperti ini bisa lebih efektif dan lebih murah daripada metode pemadam kebakaran yang telah ada. Para penliti menguraikan hasil temuannya di jurnal Proceeding National Academy of Sciences.

Saat ini, bahan yang paling banyak digunakan untuk mengatasi kebakaran hutan di lahan liar adalah amonium polifosfat sebagai zat aktif penahan api yang menghasilkan air ketika terbakar. Namun, formulasi ini hanya mampu bertahan pada tanaman untuk waktu yang singkat saja, sehingga tidak dapat digunakan untuk penanganan secara preventif, karena air yang tertahan akan segera menguap, di mana biasanya sering terjadi dalam waktu kurang dari satu jam selama kondisi kebakaran hutan normal.

Sebaliknya, teknologi yang dikembangkan oleh Stanford, yang berupa cairan seperti gel berbasis selulosa dari nabati, akan tetap melekat pada tanaman meskipun terkena angin, hujan dan paparan lingkungan lainnya.

Dirancang oleh seorang insinyur dan mantan rimbawan pencegahan kebakaran, pencegah kebakaran yang dapat disemprotkan ini suatu hari dapat digunakan untuk mengurangi secara drastis jumlah kebakaran hutan yang sering terjadi setiap tahunnya.

Dengan melapisi area vegetasi yang luas di area yang rentan, diharapkan teknik ini dapat berkerja seperti vaksin untuk mencegah kebakaran di masa depan.

“Ini berpotensi membuat pemadaman kebakaran hutan liar menjadi lebih proaktif, daripada reaktif,” kata ilmuwan material dan insinyur Eric Appel dari Stanford University.

Gel baru ini pada dasarnya adalah sejenis perekat lengket dan tahan api untuk bahan kimia ini. Terbuat dari bahan utama nabati, bahan ini berbasis selulosa, yang berarti itu terkunci pada vegetasi sepanjang hujan, angin, atau kilau.

Terlebih lagi, para penemu mengatakan gel itu juga tidak beracun dan dapat dengan aman disemprotkan pada lingkungan menggunakan peralatan pertanian atau pesawat terbang.

Sejauh ini, telah diuji pada rumput dan tanaman chamise oleh Departemen Kehutanan dan Perlindungan Kebakaran California (CalFire), dan dalam kedua skenario tersebut , penyemprotan memberikan perlindungan penuh terhadap kebakaran. Sebagai perbandingan, retardan komersial lainnya hanya memberikan sedikit atau bahhkan tidak ada perlindungannya sama sekali.

“Kami tidak memiliki alat yang sebanding dengan ini,” kata Alan Peters, seorang kepala divisi CalFire yang memantau berbagai pengujian.

Bahan ini tidak hanya digunakan untuk mencegah kebakaran, dalam dosis yang jauh lebih besar juga dapat digunakan untuk menghentikan kebakaran setelah kebakaran dimulai – dengan cara yang sama seperti alat pemadam api yang disemprotkan terhadap kebakaran.

Kebakaran hutan di seluruh dunia diyakini menjadi lebih intens dan lebih sering terjadi seiring dengan memburuknya perubahan iklim, dan saat ini metode yang ada untuk pengelolaannya masih sangat terbatas.

Para peneliti sekarang bekerja sama dengan negara bagian California untuk menguji gel ini di area pinggir jalan yang dikelilingi pohon, yang memicu lusinan kebakaran di wilayah tersebut setiap tahunnya. Jika berhasil, itu bisa melindungi kehidupan dan mata pencaharian yang tak terhitung jumlahnya di sekian banyak tempat.(ikons.id)