Ilmuwan Swiss mengungkap mengapa kulit bunglon bisa berubah warna. Misteri itu menyatakan bila kulit bunglon menggunakan teknologi nano yang jauh lebih hebat dari yang pernah ditemukan manusia itu merubah warna kulitnya.

“Kami menemukan bila bunglon merubah warna kulit dengan ‘menyetel’ kristal-kristal berukuran nano di kulitnya,” ujar Jeremie Teyssier, ahli fisika dari Universitas Geneva, Swiss.

Bunglon secara ajaib mampu mengontrol setiap kristal yang ada sel kulit kerasnya agar bisa berubah warna ketika si bunglon berusaha menarik perhatian betina di saat musim kawin. Hal yang sama juga akan dilakukan ketika si bunglon bertemu dengan musuh. Kristal spesial yang terdapat di dalam sel kulit bunglon itu dikenal dengan nama iridophore. Hebatnya, tidak hanya membantu bunglon merubah warna, iridophore juga berfungsi melindungi bunglon dari suhu panas lingkungan.

Ketika di bunglon dalam keadaan tenang, kristal iridophore akan merapat dan memantulkan gelombang warna biru. Sebaliknya, saat merasa tertekan atau senang, si bunglon akan mengendorkan susunan kristal di kulitnya. Hal ini membuat pantulan cahaya menjadi berubah, misalnya kuning atau merah.

Nah, ketika panas matahari terlalu menyengat, kristal iridophore di kulit bunglon bisa memantulkan sinar. Alhasil, panas berlebih bisa dihindari si bunglon. Ingat, suhu panas tinggi tidak baik bagi reptil yang tidak bisa mengatur suhu tubuhnya karena mempunyai darah dingin.

“Bunglon telah menemukan sesuatu yang benar-benar baru di dunia evolusi. Kristal-kristal iridophore itu adalah sesuatu yang sangat menakjubkan,” ungkap Profesor Michel Milinkovitch. (merdeka.com)