Seperti diketahui, Nitrogen, Fosfor, Kalium, Kalsium dan Magnesium merupakan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman untuk tumbuh dan berkembang secara optimal. Dan, unsur hara ini pada tanaman budidaya diperoleh dari pemupukan secara berkala atau secara natural tersedia di dalam tanah. Walaupun demikian, biaya pemupukan memang tergolong tinggi.

Bahkan ada yang menyebut pada budidaya tanaman kelapa sawit biaya pemupukan bisa menghabiskan 40-60% dari total biaya pemeliharaan. Penggunaan pupuk konvensional di perkebunan dianggap memiliki tingkat efisiensi uptake (penyerapan) yang rendah. Lebih dari setengah jumlah pupuk yang diaplikasikan hilang dan menyebabkan kerugian ekonomi yang tinggi.

Sejalan dengan perkembangan teknologi, peneliti dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) melakukan penelitian nanofertilizer di perkebunan kelapa sawit, untuk aplikasi pupuk slow-release (terutama untuk unsur nutrien NPK) dan peningkatan kelarutan dan dispersibilitas mineral mikronutrien (pupuk nano dan submikron nano – nano partikel)guna meningkatkan nutrient use efficiency (NUE) pupuk. Peneliti PPKS yang terlibat dalam riset Teknologi Nanofertilizer adalah Dr.Frisda R. Panjaitan.  Hasil penelitiannya dipaparkan pada pada Seminar Pupuk dan Mekanisasi, pada awal April 2019 di Jakarta.

Pada awal paparannya, Frisda menyampaikan biaya pemupukan pada tanaman budidaya hampir 50%. “Walaupun biayanya tinggi tetapi efisiensi pemupukan yang diperoleh di lapangan tidak sesuai dengan harapan. Sebagai contoh pemupukan 100%, efisiensinya belum tentu 100%,” ucap Frisda.

“Dari literatur yang diperoleh, efisiensi pemupukan nitrogen maksimal 35% karena proses imobilisasi di dalam tanah. Seperti yang dijabarkan, proses imobilisasi adalah ketika inorganik nitrogen yang dirubah menjadi organik nitrogen sehingga tanaman tidak bisa menggunakan sebagai bahan nutrisi,” tambahnya.

Penggunaan fosfor konvensional maksimal 20% terjadi karena fikasasi yang terjadi di dalam tanah karena ragam pH yang di dalam tanah. Misalnya, jika terjadi pH yang terlalu basa maka terjadi fiksasi fosfor dengan aluminium sehingga penyerapan tanaman terhadap pupuk ini akan lebih rendah.

Ada juga penyerapan nutrisi kalium maksimal 40% dalam bentuk pupuk konvensional, masalahnya yaitu fiksasi yang disebabkan oleh imobilisasi yang tinggi dari mikronutrien yang lain seperti Zn, Fe dan unsur lainnya menghasilkan senyawa kompleks yang tidak larut sehingga menurunkan uptake tanaman.

Menurut Frisda jika terjadi masalah seperti itu diperlukan satu teknologi yang bisa meminimalisasi imobilisasi, volatisasi, denitrifikasi ataupun reaksi fiksasi yang ada di dalam tanah. Sebenarnya ada beberapa teknologi, namun ada satu teknologi yang mampu menjawab rendahnya efisiensi pemupukan yaitu nanofertilizer.

“Sudah banyak yang mengaplikasikan dan meng-introduksi nanofertilizer dan terbukti mampu meningkatkan efisiensi pemupukan,” pungkas Frisda.

Introduksi nanofertilizer di sektor pertanian berfungsi untuk (1) meningkatkan efisiensi pemupukan, (2) meningkatkan penyerapan pupuk dari tanah ke dalam tanaman, (3) memperpanjang durasi (waktu tinggal) pupuk di dalam tanah, dan (4) mengurangi tingkat kehilangan nutrisi pupuk pada tanah.

Teknologi nanofertilizer PPKS dikembangkan menggunakan nanopartikel dan submikron partikel (100 nm – 1 mm). Untuk memahami apa yang dimaksud nanopartikel, Frisda mengilustrasikan dengan sebuah kubus yang memiliki 6 sisi (1x1x6=6m2, jika kubus tersebut dibagi 8 maka akan memiliki 12 sisi ( x  x6x8=12m2), dan jika dibagi lagi menjadi 64 maka luas partikel yaitu xx6x64=24m2.(sawitindonesia.com)