Menggunakan bau badan untuk mendeteksi penyakit bukanlah hal baru. Tim peneliti dari Rumah Sakit Bari, Italia, dilaporkan telah menemukan tes terbaru yang cukup akurat untuk mendeteksi penyakit kanker.

Pasien tak perlu lagi mengalami tes menyakitkan jika menemukan darah dalam kotoran mereka. Tim peneliti hanya menggunakan tes bau napas untuk mendeteksi dugaan kanker perut.

Angka akurasi dari tes bau napas ini mencapai 76 persen. Seseorang dengan gagal ginjal kronis mungkin memiliki napas dengan bau amis, dan pasien dengan penyakit radang usus memiliki napas yang benar-benar bau seperti kotoran.

Tim yang dikomandoi Donato Altomare ini membandingkan bau napas 37 pasien penderita kanker perut dengan 41 responden sehat. Hasilnya, alat tes bau napas itu cukup akurat mengidentifikasi penderita kanker perut. “Hasilnya mendukung tes bau napas sebagai alat deteksi dini,” ucap Altomare.

Teknologi bau napas mendasarkan pada teori bahwa tumor memproduksi sejumlah organik yang tidak ditemukan pada tubuh orang sehat. Zat ini dapat ditemukan dalam napas penderita. Bahkan, pada penelitian lain menunjukkan, anjing pun dapat mendeteksi bau khusus dari zat yang diproduksi kanker tersebut.

Mampu Endus 17 Penyakit 

Mendeteksi penyakit dengan akurat akan menentukan terapi pengobatan yang akan diberikan. Karena itulah para ilmuwan terus mengembangkan berbagai metode diagnosis yang sederhana namun memberi hasil yang akurat. Salah satunya melalui napas pasien.

Para peneliti di AS mengklaim alat tersebut bisa mendeteksi 17 macam penyakit. Penelitian telah dilakukan dengan menguji napas 1.404 orang dewasa di laboratorium. Mereka pun berhasil mendeteksi sejumlah penyakit.

Penelitian menunjukkan dalam setiap embusan napas, terkandung nitrogen, karbon dioksida dan oksigen, serta lebih dari 100 bahan kimia lainnya. Kadarnya akan bervariasi tergantung kesehatan seseorang.

Peneliti utama Profesor Hossam Haick dari Israel Institute of Technology mengatakan, setiap penyakit ternyata menghasilkan jejak napas atau breathprint berupa senyawa kimia volatil yang jumlahnya berbeda-beda.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal ACS Nano ini menyebutkan, alat tersebut nanti dapat mengendus penyakit seperti kanker hingga parkinson. Akurasi alat tersebut diklaim mencapai 86 persen.

 

Mereka tampaknya terinspirasi ajaran bapak kedokteran dunia, Hippocrates yang menyarankan muridnya mencium napas pasien untuk mendeteksi penyakit. Bahkan, saat ini, beberapa anjing yang dilatih pun dapat mengendus adanya penyakit tertentu pada manusia.

Para peneliti berharap, alat tersebut nantinya bisa dipakai di klinik maupun rumah sakit di seluruh dunia untuk deteksi penyakit. Dengan melalui napas, deteksi penyakit dinilai lebih mudah, murah, dan tentunya tanpa rasa sakit bagi pasien.

Adapun 17 penyakit yang bisa dideteksi dengan tingkat akurasi mencapai 86 adalah sebagai berikut. Gagal ginjal kronis, Parkinson idiopatik, Parkinsonisme atipikal, Multiple sclerosis, Penyakit Crohn, Kolitis ulserativa, Sindrom iritasi usus besar, hipertensi arteri paru, Pre-eklampsia pada wanita hamil, Kanker leher, Kanker paru, Kanker kolorektal, Kanker kandung kemih, Kanker ginjal, Kanker prostat, Kanker lambung, dan Kanker ovarium.(koran-jakarta.com)