Pada hari Jumat, 8 Desember 2017, pembina Masyarakat Nano Indonesia, Prof Nurul Taufiqu Rochman, M.Eng mendapat kesempatan menjadi pembicara di AIFED: The 7th Annual International Forum on Economic Development and Public Policy. Acara tahunan ekonomi dunia ini diselenggarakan oleh Kementerian Keuangan Republik Indonesia merupakan kerjasama antara pemerintah RI dengan Pemerintah Australia melalui Australia Indonesia Partnership for Economic Governance (AIPEG) dan Asian Development Bank (ADB), serta dukungan dari ADB Institute.

Forum ekonomi tersebut mengambil tema “Riding The Waves of Technological Change: The Way Forward to Drive Productivity and Alleviate Inequality”. Menurut Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani, forum ekonomi tersebut akan menjelaskan gelombang perubahan teknologi dan mendapatkan gambaran komprehensif mengenai dampak perubahan teknologi terhadap kesejahteraan masyarakat, khususnya untuk Indonesia, serta upaya kebijakan yang diperlukan.

Diantara rangkaian acara yang digelar selama 2 hari, dari tanggal 7-8 Desember 2017, Prof Nurul mengisi sesi 4 yang membahas tentang “Disruption in Indonesia: Innovators share their experience”. Pada sesi ini, bersama Dimas Utomo (SVP Go-Jek), Tri Mumpuni (Social Entrepreneur of Hydropower), dan Achmad Zaky (Founder Bukalapak.com), Prof.Nurul berbagi pengalamannya memperkenalkan teknologi baru di Indonesia.

Dalam presentasinya, Prof.Nurul menyampaikan bahwa perkembangan nanoteknologi di dunia sudah berkembang sangat pesat. Ketika penelitian tentang nanoteknologi baru dikenal sekitar tahun 1970an, penggunaan nanoteknologi semakin mudah dijumpai di berbagai produk komersil di luar negeri untuk meningkatkan kualitasnya. Namun sayangnya di Indonesia nanoteknologi belum terlalu dikenal sehingga belum banyak produk yang bisa memanfaatkannya.

AIFED: The 7th Annual International Forum on Economic Development and Public Policy

“Indonesia diberkahi dengan kekayaan yang melimpah, termasuk biodiversity nya yang terbesar kedua di dunia setelah Brazil. Nanoteknologi bisa digunakan meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia” ujar Prof.Nurul dalam presentasinya.

Dalam perjalanannya memperkenalkan nanoteknologi di Indonesia, Prof. Nurul telah mengkomersialisasikan lebih dari 50 produk nanoteknologi dari hasil penelitian bersama tim risetnya. Pertama kali yang beliau  kembangkan adalah mesin untuk memproduksi nanopartikel dari bahan mentah baik untuk skala industri atau laboratorium yang disebut dengan mesin milling. Mesin pengolah nanopartikel ini kini sudah dimanfaatkan di berbagai litbang industri dan universitas di Indonesia dan Malaysia untuk membuat berbagai produk nano untuk penelitian maupun produksi.

Prof. Nurul memberikan contoh dari sisi agrikultur bagaimana nanoteknologi bisa meningkatkan nilai tambah suatu produk. Curcuma mentah biasa dihargai sekitar 2000-5000/kg di pasar. Namun setelah diolah dan menjadi curcuma nanopartikel, harganya bisa melambung hingga Rp 1 juta/kg yang dimanfaatkan untuk produk kosmetik atau obat tradisional. Begitupun produk lain seperti jahe dan kulit manggis yang bisa digunakan untuk produk herbal, ataupun pasir besi oksida yang bisa digunakan untuk pewarna dan pelapis anti korosi, ketika diolah menjadi nanopartikel harganya bisa meningkat 500-1000x lipat.

“Biasanya petani perlu menjual 5 ton curcuma untuk membeli laptop bagus seharga 10 juta. Namun dengan mengolahnya menjadi nanopartikel, maka saya hanya perlu menjual sebanyak 7kg curcuma kering untuk membeli laptop tersebut” kata Prof. Nurul yang disambut tepuk tangan dari para audiens.

Prof.Nurul berharap dukungan dari pemerintah agar nanoteknologi bisa semakin banyak dimanfaatkan di Indonesia. Kendala peralatan yang masih mahal dan perizinan produk yang masih berbelit membuat masyarakat masih enggan untuk memproduksi nanopartikel.